Suku Kubu



Suku kubu merupakan salah satu suku yang ada di nusantara Indonesia ini, mereka biasanya tinggal di belantara Jambi Sumatera atau yang biasa disebut dengan sebutan pulau Andelas.

Menurut cerita sejarah konon suku kubu ini adalah pelarian sebagian rakyat Kerajaan Sriwijaya yang pada saat itu sedang diserang oleh kerajaan Chola India, tetapi adapula yang mengatakan bahwa suku kubu ini merupakan Pelarian sebagian rakyat Kerajaan Sriwijaya yang diserang oleh Singosari dan di susul oleh serangan kerajaan Majapahit.

Suku kubu sangat pekat sekali dengan kehidupannya yang alami, karena suku kubu ini tidak mengenal bercocok tanam, dan dalam menjalani kehidupannya mereka mengandalkan hasil-hasil dari hutan seperti : umbi-umbi hutan, talas, dsb. sekali-kali mereka pun makan daging, dengan mengandalkan hasil dari buruannya di hutan serta menangkap ikan di sungai, karenanya, mereka selalu mencari tempat tinggal di daerah-daerah dekat aliran sungai.

Suku kubu termasuk suku yang selalu berpindah-pindah tempat, mereka tidak pernah mendiami suatu tempat dalam waktu yang lama. karena mereka mempercayai keyakinannya kepada roh-roh nenek moyangnya, sehingga apabila ada salah satu dari anggota sukunya yang meninggal, mereka berasumsi bahwa tempat yang mereka diami sudah tidak layak lagi, karena menurut mereka apabila melihat anggota sukunya meninggal, itu pertanda adanya kutukan dari roh-roh nenek moyangnya. sehingga mereka pun harus pergi mencari tempat tinggal baru.

seperti halnya dengan suku-suku pedalaman lainnya yang ada di nusantara Indonesia ini, seperti : Suku Baduy di daerah banten Jawa barat Indonesia, Suku Dayak di daerah pedalaman kalimantan Indonesia, Suku Asmat yang ada di Pedalaman Irian Jaya Indonesia, dsb. Suku kubu ini juga sangat rentan dengan kehidupan Mistisnya, seperti yang saya tanyakan waktu itu kepada salah seorang anak suku kubu yang sudah berbaur dengan masyarakat. orang tersebut menjelaskan tentang kelebihan-kelebihannya suku kubu kepada saya terutama di bidang Mistis. “Suku kubu ini sangat terkenal dengan ilmu peletnya”, ujar orang tersebut. sampai orang tersebut berkata dengan gagahnya, bahwasanya “Setiap orang yang sudah terkena peletnya suku kubu pasti sangatlah susah untuk diobati”. sambil minum kopi bersama, orang tersebut pun mengatakan beberapa ceritanya, bahwa dulu pernah ada seorang wanita dari lain pulau datang kesini, dan dengan berjalannya waktu ada seorang dari anak suku kubu yang menyukai wanita tersebut. anak suku tersebut sudah mencoba menyatakan rasa cintanya, namun karena beberapa alasan wanita itu pun dengan terpaksa menolak cintanya. “Cinta ditolak Dukun bertindak” itulah istilah pada era sekarang ini. Tanpa berpikir panjang anak suku kubu pun melakukan ritual khusus untuk mendapatkan cintanya, karena sesuai dengan prinsip kebanyakan orang kubu bahwa “Segala macam akan ditempuh demi mendapatkan apapun yang diinginkan”. Dan pada akhir cerita ternyata ritual yang dilakukan anak suku kubu pun berhasil dan akhirnya mereka pun sampai ke jenjang pernikahan dan hubungan rumah tangga mereka pun bertahan hingga sekarang.

Bukan hanya ilmu pelet saja yang terkenal pada suku kubu ini, adapula ilmu santet yang sangat mematikan, dan biasanya Anak suku kubu ini mengatakan ilmu santet ini dengan sebutan “Sangek Pari atau Tanggam Pari”. kenapa disebut Ilmu santet Sangek Pari? kita telusuri lagi lebih dalam. ilmu santet sangek pari ini adalah ilmu santet yang menggunakan media salah satunya ikan pari, sehingga anak suku kubu ini biasa menyebutnya dengan sebutan ilmu santet sangek pari karena menggunakan media ikan pari.

Bagaimana mereka melakukan ritualnya? sebelum melakukan ritual mereka menyiapkan terlebih dahulu ikan parinya, setelah ikan pari mereka dapatkan, mereka tusukan sengat yang ada pada ekor ikan pari yang beracun  tersebut kedalam matanya ikan pari hingga buta dan melepaskan kembali ikan  ke habitatnya. setelah itu mereka siapkan juga media-media lainnya seperti : sengat atau potongan ekor dari ikan pari tersebut, kemenyan, tali Pocong atau tali yang biasa di ikatkan pada perut jenazah, paku yang diambil dari rumah kayu yang terbakar,serta kayu yang biasa digunakan untuk menandai kuburan. biasanya mereka melakukan ritual pada pertengahan malam dan dilakukannya di dekat pohon nangka. kemenyan mereka bakar dan persyaratan-persyaratan lainnyapun diletakkan di dekat pohon nangka. setelah mereka melakukan ritual yang cukup lama, lalu mereka tusukkan sengat dari ikan pari tersebut ke pohon nangka karena bisa di katakan pohon nangka tersebut sebagai bentuk visualisasi dari target yang akan disantet. efeknya apabila terkena santet ini adalah setiap organ tubuh yang terkena tusukan ini maka organ tubuh tersebut akan mengalami pembusukan hingga secara perlahan orang itu pun akan meninggal.


Itulah sebagian cerita saya setelah saya melakukan perjalanan sebagai seorang musafir. Dan masih banyak hal lagi yang saya temui dalam perjalanan saya


Arti/makna kehidupan kita adalah dengan semua hal terindahnya dan mengambil pelajaran sisi negatif.

Der sinn unseres lebens ist es ihn mit all seinen schönen
und negativen seiten zu meistern
.


  1. September 2, 2010 pukul 6:13 am

    mantapp

  2. danang
    Oktober 14, 2011 pukul 1:27 pm

    nggak seru(klau ada bacaan doanya kan bisa nambah wawasan)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: