Jihad Melawan Hawa Nafsu


 


 

“الجهاد ضد شهوة”

 


Dalam Islam urutan jihad ada dalam urutan ke 3 setelah Rukun Iman Dan Rukun Islam, Tetapi kita tidak selalu memaknai kata jihad dengan senjata atau kekerasan, Kecuali apabila kita di paksa oleh suatu kekuatan yang akan mengkafirkan kita, maka kita wajib melakukan jihad Lahiriah, sebab jihad inilah yang menentukan hidup matinya Islam.

Namun di tengah kondisi yang penuh dengan dekadensi moral seperti sekarang ini, jihad yang sesungguhnya amat penting untuk kita lakukan adalah jihad batiniah. karena, dengsn melakukan jihad batiniah maka akan menentukan terbangun insaniahnya seorang hamba. atau sebaliknya, tidak ada jihad batiniah maka punahlah insaniah seorang hamba.

Rasulullah SAW sangat menekankan betapa pentingnya jihad batiniah, yang juga dimaknai sebagai jihad melawan Hawa Nafsu. Dikisahkan, selepas Perang Badar yang dahsyat melawan kaum musyrikin, Rasulullah SAW bersabda “Kita baru kembali satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperang yang lebih besar”. Para sahabat terkejut dan bertanya “Peperangan apakah itu wahai Rasulullah?” Paduka Rasulullah SAW Menjawab “Peperangan melawan Hawa Nafsu”.

Tak bisa dimungkiri,perang melawan hawa nafsu atau mujahadatun nafsi memang sangat susah untuk kita lakukan. andai nafsu itu berwujud mahluk, maka sudah pasti mudahlah bagi kita untuk membunuhnya. tetapi nafsu itu justru ada di dalam diri kita, mengalir bersama darah dan menguasai seluruh tubuh kita. karena itu, jika tanpa kesadaran dan kemauan yang keras, maka kita pasti akan dikalahkannya dan kemudian diperalat sang nafsu dengan sekehendaknya.

Seperti hal nya yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, beliau memerangi hawa nafsu selama 25 Tahun, serta yang dilakukan Syekh Wal Ustadzi Ahmad Ruyani, beliau harus melakukan puasa selama 40 hari dan selama itu pula beliau tidak tidur sama sekali, karena sesungguhnya hawa nafsu itu bisa kita kalahkan dengan berpuasa, hal itu dilakukan untuk apa? untuk bekal kita kelak di Alam Barzah, karena itu adalah salah satu kunci kita menuju Surganya Allah SWT.

Dalam Ilmu Tasawuf, Nafsu jahat dikatakan sebagai Sifat Mazmumah, diantara sifat-sifat itu, ialah : Cinta Dunia, Gila Pangkat, Gila Harta, Banyak berbicara yang tidak bermanfaat, Banyak makan, Dengki, Egois, Dendam, Buruk Sangka, mementingkan diri sendiri, Pemarah, Tamak, Serakah, Sombong, dll. Lihat di masa sekarang ini bukankah banyak manusia yang didominasi oleh sifat-sifat tersebut.

Secara insaniah sifat-sifat tersebutmemang bisa dengan mudah melekat pada hati seperti daki yang melekat pada badan kita. kalau kita malas membersihkannya maka akan semakin kuat dan menebalkan “daki” itu pada hati kita. sebaliknya kalau kita rajin membersihkannya, maka hati kita akan bersih dan jiwa pun akan suci, cara membersihkannya tak lain dan tak bukan adalah dengan senantiasa bertakwa kepada Allah SWT, Tanpa filter keimanan sejati, maka hidup kita akan berada dibawah kendali sang nafsu.

Andai kita tak bisa mengendalikan sang nafsu, maka dia akan menjelma menjadi sebentuk kekuatan yang lebih jahat dari setan, mengapa? sebab setan laknatullah tidak dapat mempengaruhi seseorang kalau tidak meniti diatas jalan sang nafsu. dengan kata lain, nafsu dapat diibaratkan sebagai “highway”atau jalan bebas hambatan untuk setan. kalau nafsu dibiarkan membesar dalam diri kita, maka semakin luaslah jalan tol setan itu. sebaliknya, kalau nafsu dapat perangi, maka tertutuplah jalan setan untuk mempengaruhi jiwa kita.

Ada Hadits yang mengatakan “Tidak dianggap seseorang  itu berani bila dia dapat mengalahkan musuhnya, tetapi dianggap berani, jika seseorang itu dapat melawan hawa nafsunya”. Sesungguhnya inilah yang disebut sebagai pejuang Hakiki. selama hawa nafsu tidak dapat di peranginya, maka selama itulah seseorang tidak akan tertuju kepada Allah SWT. Dengan demikian, siapa saja yang sanggup melawan hawa nafsunya, maka dia adalah Rijalullah (keluarga Allah, Kepunayaan Allah, atau Tentaranya Allah) Dan bagi siapa saja yang menjadi kepunyaan Allah atau tentara Allah maka dia akan dibantu oleh Allah dan senantiasa berada dalam penjagaannya (Amiiiiin….).

karena itulah, sebagai hamba yang beriman, kita harus sanggup melawan hawa nafsu. kalau tidak, maka akan banyak nilai luhur kemanusiaan kita yang terabaikan, dan banyak pula perintah Allah yang akan kita lalaikan. jadi, hanya dengan Mujahadatun nafsi, barulah maksiat lahir dan batin dapat kita tinggalkan seluruhnya.


  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: